Blackout Batam
Aku bersiap berangkat ke sekolah pagi itu, sekitar pukul 6.30 dan listrik padam. Oh biasa, ucapku dalam hati karena ini hal normal bukan? Kadang memang terjadi. Namun ternyata yang mengejutkan, setelah sampai di sekolah mendapat kabar melalui social media dan juga info dari mulut ke mulut bahwa listrik padam tidak hanya di Batam tetapi juga termasuk Bintan dan Tanjung Pinang. Listrik padam lebih dari 15 jam. Mulai 6.30 pagi tadi hingga lebih kurang pukul 11 malam. Kami di kelas tetap belajar karena sekolah punya genset, namun sayangnya mesih genset sekolah hanya bisa memasok listrik hingga pukul 10 pagi. Sehingga sekolah mengambil keputusan untuk memulangkan siswa lebih awal. Murid berteriak gembira karena pulang lebih awal, enaknya menjadi anak. Tidak ada raut panik di wajah mereka. Kita sebagai orang dewasa bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa padamnya listrik serentak di kota yang berbeda dengan jangkauan wilayah yang begitu luas. Hal ini terasa tidak wajar. Imajinasi liar mulai berputar di kepalaku, mulai dari perdebatan pembangunan data centre AI di Nongsa,Batam; hingga imajinasi adanya proses masuk barang ilegal di black market Batam. Isi fikiranku seperti film action dan thriller. Menjelang siang anak-anak sudah pulang di jemput orang tua, hanya beberapa anak yang telat di jemput. koridor yang ada di gedung sekolah remang karena hanya bermandikan cahaya dari lampu emergency di sudut dinding. Kami para guru juga bersiap pulang lebih awal sekitar pukul 3 sore. Jika dibandingkan dengan sekolah lain, kami termasuk pulang telat. Tapi, ya sudahlah. Pulang lebih awalpun kosanku pasti gelap. Hal yang aku khawatirkan, bagaimana cara pulang? Bagaimana cara makan? Karena selama ini aku sangat bergantung pada layanan trasnportasi dan layanan pengantar makanan online. Aku benar-benar khawatir. Aku bersyukur ada kolega sekaligus kawanku di sekolah, sehingga kita bisa pulang bersama. Kami memutuskan untuk membeli makan malam terlebih dahulu sebelum balik ke kosan. Lampu padam mungkin masih lama diperkirakan sampai malam. Tidak ada yang bisa dimakan dan dimasak dikosan sehingga, membeli makanan di jalan pulang adalah pilihan yang bijak. Seperti perkiraanku sebelumnya, kosanku gelap dan panas. Aku benar-benar pasrah, aku memutuskan membersihkan kamar kosanku dengan pencahayaan matahari sore dari celah jendela kamarku. Aku memutuskan untuk membersihkan kamarku karena jikalau gelap gulita setidaknya aku tidur di kamar yang bersih dan nyaman. Aku membersihkan kamar juga didorong oleh perasaan yang kalut. Internet sejak tadi siang tidak bekerja, aku yang sudah terbiasa scrolling social media, ketika waktu luang merasa janggal. Aku merasa kosong. Aku bertanya pada diri. Mengapa bisa terasa sehampa ini? Apakah sebegitu tak berdayanya kita ketika tak punya listrik. Kini aku sadar, hampir semua peralatan yang ada di rumah adalah peralatan listrik. Aku merasa tak berdaya ketika listrik padam.Ternyata kita setidak berdaya itu, apakah ini hal yang wajar? Aku berfikir, ada baiknya juga kita menyimpan beberapa peralatan analog, konvensional untuk di situasi mendesak seperti ini. Setelah membersihkan kamar aku terdiam. Sekarang aku harus melakukan apa? Aku akhirnya berbaring di lantai kamar dan tertidur saat speaker masjid mulai memutar murattall. Wah! Masjid tetap menyala, karena ada genset sepertinya. Gelisahku berkurang, senja itu tidak terasa begitu sunyi. Aku benar-benar tertidur. Setelah itu aku terbangun, dan bergeas untuk mandi dan shalat. Tak lama kemudian, Bapak Ibu kosan ku berjalan keluar masuk rumah, mengerjakan sesuatu. Aku mengamati, apa gerangan yang dilakukan di luar. Ternyata Bapak kosanku berupaya menghidupkan genset yang dipinjam dan PT dekat perumahan. Setelah mencoba menarik tali generator beberapa kali, akhirnya genset hidup. Beliau segera menyalakan pompa air. Sekarang kosan kami mendapatkan pasokan air bersih, cukup untuk mandi. Ibu kosanku segera menampung banyak air di beberapa ember dan tong air besar. Tak hanya air untuk rumah kami. Bapak kosanku, berbagi air dengan tetangga, karya selang air di depan rumah terlihat mengalir ke ruma tetangga di depan. Wah, sungguh baik dan peduli. Aku belajar tentang kehidupan bertetangga dari Bapak Ibu Kosanku. Mereka orang baik, aku beruntung jadi saksi hidup kebaikan mereka. Aku berharap aku juga bagian dari orang-orang baik. Besoknya dan sampai hari ini, listrik kembali stabil di area tempat tinggal ku dan tidak ada lagi kejadian listrik padam. Aku bersyukur.Kejadian Blackout hari ini, pelajaran pembuka yang sangat menarik untuk kubawa di ruang kelas nanti.Karena Minggu depan topik belajar kita terkait denga energy termasuk salah satu jenisnya energi listrik.

Bener banget, sekarang apa apa butuh listrik, pernah waktu itu Sumatera kena black out listrik mati seharian, dan baru sadar klo udah ga stok lilin d rumah, punya lampu emergency tahannya cuma bentar.
BalasHapus