Book Reflection : How to win friends and influence others



Ini adalah buku international best seller, karya Dale Carnegie. Bisa dibilang in adalah buku self-development klasik yang mana pesan yang ada didalam buku terpakai sepanjang manasa. Awalnya aku memang lagi cari buku buat ningkatin kemampuan komunikasi dengan orang ( berbagai orang dengan latar belakang) baik itu tua,muda, berpangkat maupun orang biasa. Karena ada momen aku merasa janggal dan tidak nyaman di tengah pembicaraan, padahal aku juga mau terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Setelah berselancar di internet, aku mendapatkan beberapa rekomendasi buku untuk seni berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Setelah melihat review dari pembaca lainnya, pilihan aku jatuh pada How To Win Friends and Influence others.Alasan lainnya aku mebeli buku ini adalah, sebagai guru aku melihat beberapa anak-anak sulit untuk bersahabat dengan anak lainnya, untuk berbagai alasan. Karena anak baru.Karena mereka udah punya geng.Karena mereka udah nyaman dengan diri sendiri.Begitu banyak perbedaan.Karena pertemanan juga hal yang tidak bisa dipaksakan. Namun dibalik itu semua, terlepas anak-anak bisa berteman nantinya atau tidak, poin pentingnya dalah mereka bisa menghormati, menghargai perbedaan bukan? dan tetap berkomunikasi dengan santun. Ini adalah bagian keresahanku sebagai guru, aku ingin mengingatkan mereka tentang nilai persahabatan dan dasar-dasar dalam berinteraksi dalam kehidupan. 

Buku ini terdiri dari lebih kurang 280 halaman, dan terdiri dari 4 Bagian. Bagia pertama, Yang Perlu Dilakukan Dalam Keterlibatan. Bagian kedua, Enam Cara Untuk Memberikan Kesan Yang Bertahan Lama.Bagian ketiga, Cara Mendapatkan dan Menjaga Kepercayaan Orang Lain. Bagian keempat, Cara menuntun perubahan Tanpa Penolakan dan Kebencian. Buku yang ada di tanganku ini adalah buku terjemahan sehingga ada beberapa kata yang rasaya kurang pas dan kurang enak dibaca, oleh karena itu terkadang kalau bisa, kalau ada kesempatan sebaiknya membaca buku versi original/English Version. Terlepas dari itu semua, terimkasih pada pihak penerjemah atas semua kerja kerasnya. Poin penting yang disampaikan dalam Carnegie dalam berinteraksi dengan orang lain sangatlah banyak, aku hanya akan membahas beberapa points yang berkesan bagiku.

Nasehat pertama, TERSENYUMLAH. Ini adalah pesan yang paling mudah dan menarik. 99,7 % orang dewasa percaya bahwa senyuman adalah aset sosial yang penting dan juga dapat menularkan emosi kebahagiaan. Fakta tentang kebahagiaan mungkin yang kita terlupakan bahwa kebahagiaan seseorang terhubung dengan kebahagiaan teman-teman dari teman-teman dari teman-temannya, sampai ke orang-orang yang berada di luar cakrawala sosial mereka.Penelitian menemukan bahwa orang orang yang bahagia cenderung terdapat di pusat jaringan sosial mereka dan berada di kelompok besar yang terdiri dari orang-orang bahagia lainnya. Menarik bukan! Ada alasan sederhana lainnya di balik fenomena senyum yang powerful menurutku. Saat kita tersenyum kita memberitahu orang-orang bahwa kita bahagia bersama MEREKA,bahagia bertemu MEREKA, bahagia dapat beriteraksi dengan MEREKA. Perhatikan betapa berharga dan merasa dihargainya lawan bicara kita karena kita tersenyum. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak ingin dihargai. Sudah menjadi karakter manusia kalau kita ingin dihargai, dihormati dan merasa bernilai. Nah, apalagi kalau lawan bicara anda orang yang sedikit kaku dan jarang tersenyum, tersenyumlah pada mereka karena tidak ada yang lebih membutuhkan senyuman dibandingkan mereka yang tidak memilki senyuman lagi untuk diberi. Kalimat penutup dari Dale Carnegi soal senyuman ini adalah, "SENYUMAN MENINGKATKAN NILAI WAJAH ANDA".

Aku yang membaca ini merasa disenggol lansung oleh Dale Carnegie, aku dengan wajah biasa ini punya harapan untuk meningkatkan nilai wajahku dengan tersenyum. Namun jikalau, aku dan teman-teman berhasil mendalami ayat Att - Thin ayah 4, bahwa Allah telah menciptakan kamu dengan bentuk yang sebaik-baiknya, aku yakin nilai ke PD an kita meningkat 1000% ditambah lagi dengan senyum kita yang tulus. Pesan dari Carnegie juga telah diajarkan oleh Rasulullah juga sebelumnya, See!! if you know your Rasulullah better, all good lesson has been taught by him. Cuma kadang kita lupa aja, I just love make the  connection between how Carnegie reminded us about  this lesson and how I remember Rasullah's sunnah that smile is part of kindness and charity for us. This is really beautiful ❤️❤️💎💎. Satu hal lagi, sebelum aku lanjut ke poin berikutnya, mulai hari ini saat  bercermin di pagi hari, aku, kamu, kita akan tersenyum tulus pada jiwa yang ada pada diri kita, sebagai bentuk penghargaan dan kebersamaan kita selama ini. Terimakasih telah tertawa bersama dan berjuang bersama.

Nah, Kita lanjut ke nasehat kedua, Tunjukkan Minat terhadap Minat Orang lain. Saat berinteraksi denngan orang lain, agar hubungan yang kita bangun lebih dekat, kenali minat dari lawan bicara kita. Masih lekat dalam ingatanku. Ketika aku ingin lebih dekat dengan kakakku agar kita punya bahan obrolan, aku mulai membahas BTS karena dulu saat itu kakakku lagi suka banget sama BTS.

Ternyata tanpa sadar aku telah menerapkan nasehat Dale Carnegie. Memang benar, ketika membahas apa yang disuka lawan bicara kita, membuat mereka mendapatkan spotlight ketika berinteraksi akan membuat orang tersebut bahagia, dan dengan sendirinya kita pun aka merasa puas dan bahagia. Sebenarnya kenapa sih repot-repot bikin orang lain bahagia? Sebentar, ini buka maksudnya jadi people pleaser atau gimana yah, ini menurutku salah satu usaha untuk menjalin hubungan yang hangat, bertahan lama, saling menghormati dan hubungan yang sehat. Karena logikanya, kalau orang lain udah senang dengan cara kita berinteraksi, maka dilain waktu ketika kita membutuhkan pertolongan, baik itu kecil atau besar untuk mencapai misi kebaikan tertentu, maka akan cenderung lebih mudah. Coba kamu perhatikan orang-orang besar, berpangkat, mereka adalah komunikator, negosiator yang handal, yang pandai berbicara memenangkan hati lawan bicaranya. 

Sekarang, mari kita lanjutkan ke poin berikutnya yaitu Akui kekurangan Anda. Pernah dengar, bahwa mengakui kekurangan dan kesalahan adalah sikap ksatria dan pemberani? Iya itu memang benar. Carnegie memberika contoh bahwa pada sebuah perusahaan, kita tidak diharapkan untuk benar terus. Bagi leader yang bijaksana ini kesempatan yang bagus bagi mereka dan kita untuk menunjukkan pribadi ksatria dan kepemimpinan yang baik. Walaupun kita tidak mempunyai jabatan, hanya orang biasa kita tetaplah menjadi untuk pemimpin terutama untuk diri kita sendiri. Jadi, say sorry, admit your mistake will not make you dummy at all. This is critical point for you to grow to be better version of yourself ðŸŠī💎. You are amazing❤️

Wuaa.. banyak banget summary dan content di luar sana terkait how to win friends and influence others. Teman-teman boleh banget untuk beli dan baca bukunya, atau nonton video youtube mengenai key lesson dari buku ini. Hal yang aku tulis masihlah sangat sedikit. Happy Reading!



Salam Literasi,


Mugni

 



📘 Book Report: How to Win Friends and Influence People
 Mugni Bustari

I picked up this book during the school holiday, hoping to become a better communicator, not just at work, but in everyday life. As a teacher, I talk to students, colleagues, and parents all the time. But honestly, I still struggle to start conversations or speak confidently, especially in new or formal situations.Dale Carnegie’s book felt like a personal guide. It reminded me that simple things, like smiling, remembering someone’s name, or listening with genuine interest, can really make people feel seen and valued. One part that hit home was the idea of lifting people up instead of pointing out their faults. That matters so much in teaching. When a student fails, I want to remind them that they still have strengths and room to grow.Another lesson I loved was asking questions instead of giving direct orders. It builds trust and invites students to think for themselves.This book isn’t just about “winning friends”, it’s about becoming a kinder, more thoughtful person. I understand now why it’s a classic. It gave me real tools I can use every day in and out of the classroom. I’ll definitely recommend it to any teacher who wants to grow, just like I do.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Refleksi Buku The Midnight Library - By Matt Haig

Picnic: A Little Joy with a Blanket and a View

Refleksi Buku Rindu - Tere Liye